Search
Saturday 16 December 2017
  • :
  • :

Pamor SMK Kian Menanjak

Pamor SMK Kian Menanjak

Sekolah menengah kejuruan (SMK) akhir-akhir ini mengalami peningkatan popularitas, terlebih saat digalakkannya kampanye SMK Bisa. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tak tanggung-tanggung akan memprioritaskan perkembangan dan pertumbuhan SMK di seluruh Indonesia. SMK dinilai memiliki peranan dalam memberikan perubahan dan kemajuan dalam sebuah masyarakat.

Menanjaknya popularitas SMK dapat dilihat dari tingginya antusias para lulusan sekolah menengah pertama (SMP) untuk mendaftar ke SMK. Nurasmi Fadillah, contohnya, lulusan MTSN 19 Pondok Indah, Jakarta Selatan, ini mengaku lebih tertarik untuk melanjutkan sekolah ke SMK dibanding ke sekolah menengah atas (SMA). Dengan melanjutkan sekolah di SMK, Nurasmi yakin dapat langsung terjun ke dunia kerja sesuai dengan keinginannya.

Nurasmi mengaku pilihannya melanjutkan sekolah ke SMK atas kemauannya sendiri tanpa arahan dari orang tua maupun guru di sekolah. Remaja yang tertarik jurusan multimedia ini sudah mempersiapkan beberapa pilihan SMK yang akan ia daftar. “Minat dari awal memang ingin masuk SMK. Untuk itu, saya sudah persiapkan beberapa pilihan, SMK N 41, SMK N 28, dan SMKN 20,” kata Nurasmi.

Peningkatan jumlah pendaftar peserta didik baru SMK dibenarkan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 20 Jakarta Mursalih. Dari tahun ke tahun, Mursalih mengatakan, lulusan SMP yang mendaftar ke SMKN 20 Jakarta bisa mencapai tiga kali lipat dari kursi yang disediakan sekolah. Menurutnya, dengan digalakkannya kampanye SMK Bisa serta upaya-upaya yang dilakukan pemerintah dengan mengadakan lomba-lomba, baik akademik maupun nonakademik, stigma masyarakat yang menganggap SMK sekolah buangan perlahan mulai bergeser.

Saat ini, Mursalih memaparkan, kuota yang disediakan ada tujuh kelas dengan komposisi jurusan, yaitu akuntansi dua kelas, administrasi perkantoran dua kelas, pemasaran dua kelas, dan perbankan syariah satu kelas dengan per kelasnya diisi sebanyak 36 siswa. Sehingga, secara umum, jumlah siswa yang diterima ada sebanyak 252 siswa. “Tahun kemarin yang mendaftar ada sekitar 600 calon siswa dan jurusan yang paling diminati adalah akuntansi,” kata Mursalih.

Sementara, menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Patria Wisata Ignatia Gerdha Wahyu S, SMK sudah bisa mengambil hati para lulusan SMP. Meskipun pendaftarnya tidak setinggi SMK negeri, pendaftar SMK Patria Wisata biasanya rata-rata mencapai sekitar 200-250 calon siswa. Sedangkan, kursi yang tersedia hanya setengahnya. Bahkan, Ignatia mengaku, sudah ada yang ingin mendaftar jauh sebelum SMK Patria Wisata membuka pendaftaran secara resmi.

Para siswa yang mendaftar ke SMK Patria Wisata, menurut Ignatia, cenderung mereka yang sejak awal tidak menyukai pelajaran ilmu eksak. Walaupun dalam praktiknya ilmu eksak juga diajarkan di SMK, tentunya dengan standar yang tidak setinggi di SMA. Karena, memang penekanan SMK lebih kepada keterampilan anak sesuai jurusan masing-masing.

“SMK menjadi pilihan para siswa sejajar dengan SMA, SMK juga tidak kekurangan pemilih,” kata Ignatia.

SMK Harus Tentukan Identitas
Meskipun popularitas SMK mengalami peningkatan, pengamat pendidikan Doni Koesoema menilai SMK masih menjadi pilihan kedua setelah SMA. Menurut Doni, ada faktor yang membuat SMK masih menjadi pilihan kedua. Yaitu, karena kurangnya akademi atau politeknik untuk para lulusan SMK melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sesuai bidang jurusan yang diminatinya.

Dari komposisi ketenagakerjaan, kata Doni, lulusan SMK banyak yang tidak dapat pekerjaan atau menganggur. Pada kenyataannya, perusahaan lebih banyak mencari lulusan diploma atau sarjana ketimbang lulusan SMK. Meskipun mereka bisa menciptakan sebuah produk, mereka tidak menguasai di bidang manajemen ataupun pemasaran. Padahal, menurut Doni, apabila mereka melanjutkan ke akademi atau politeknik, mereka akan diajarkan bagaimana cara membuat usaha, cara memasarkan, dan teknik menghitung keuangan.

“Kalau mereka memakai ijazah SMK, mereka hanya sebagai pekerja bawahan dengan gaji yang rendah,” kata Doni.

Maka itu, Doni menyimpulkan, banyak dari lulusan SMK yang pada akhirnya memilih melanjutkan pendidikan ke universitas yang notabene ditujukan untuk lulusan SMA. Hal tersebut justru malah meruntuhkan kredibilitas SMK sendiri. Identitas SMK jadi tidak jelas apakah untuk mencetak lulusan yang terampil dalam bekerja atau sebagai akademisi. “Kalau lulusan SMK masuk ke universitas itu tidak logis, kajiannya berbeda, universitas berfokus pada analisis sedangkan lulusan SMK bersifat praktis,” jelas Doni.

Untuk itu, menurut Doni, penting bagi SMK menentukan identitas diri. SMK harus memilih prioritas yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi. Kemudian, pemerintah harus membuatkan sekolah tingkat lanjutan setara akademi atau politeknik untuk bidang yang memiliki daya serap tinggi tersebut. Pemerintah juga harus memastikan lulusan SMK tersebut melanjutkan pendidikan ke akademi atau politeknik, bukan ke universitas.




Leave a Reply